Rabu, 03 April 2013

Cinta dalam Diam

Alhamdulillah telah terbit antologiku yang ke-6
Spesifikasi buku sebagai berikut :

Judul : Antara Aku dan Dia
Pengarang : Muhammad Dede Firman – Nira Kunea, dkk
Ukuran : 14 cm x 20 cm
Tebal : vi + 166 hlm
Harga : 40.000
 
SINOPSIS :


 Nea
Ya. Aku menyukainya. Lelaki yang bernama Andy itu. Bukan karena dia tampan, ataupun kaya, tetapi lebih kepada chemistry yang aku rasakan ketika aku berada di dekatnya. Seharusnya, dia tahu kalau aku menyukainya.
Lewat pertanda yang kuberikan padanya.
Caraku menatapnya. Caraku berbicara padanya.
Memang, aku sering bersikap lain kepada orang yang aku suka. Bukan jaim, tapi sepertinya memang lebih kepada salting. Jantungku bisa tiba-tiba berdebar keras sekali saat berada di sampingnya. Ada rasa yang bergelenyar hangat di dalam hati. Rasa yang membuatku nyaman.
Namun, ada satu hal yang belakangan baru aku sadari. Dia ternyata masih memanggilku kakak.

 ***

 Andy
Kakak.
Entah mengapa, ada yang sedikit janggal dengan kata itu. Mungkin, aku menganggapnya begitu karena aku terlalu ingin menambahkan embel-embel ‘sayang’ di belakangnya.
Kakakku sayang.
Ah, seandainya itu bisa jadi nyata. Aku tidak tahu apakah dia juga suka padaku atau tidak. Memang, sebagai seorang laki-laki, aku terlalu pengecut untuk menyatakan cinta terlebih dahulu.
Aku takut kalau dia tidak menerimaku.
Sebagai seorang laki-laki, aku tergolong orang yang sulit untuk memberi pertanda kalau aku suka padanya. Selama ini, aku hanya bisa tersenyum saat bertemu dengannya. Merasakan nikmatnya debaran di jantungku saat aku bersamanya.
Mengiriminya pesan.
Memberinya perhatian ….
Tapi, apakah itu sudah cukup untuk memberinya pertanda, kalau aku suka dengannya?


Bagaimana kalau sebuah cerpen ditulis oleh dua orang? Sulit gak sih? Bagaimana hasilnya? Baca buku ini dan lihat karya-karya mereka.

 
 
Cinta Diam
By : Danang Kurniawan & Zulzilah Arth 
SLTP N 6 SEMARANG, disinilah pertama kali aku melihatnya dalam satu kelas yang sama yaitu 1F, kira-kira tahun 1994. Dari segi prestasi memang aku bisa dibilang lumayan cerdas, buktinya meskipun aku berasal dari SD di kampung (Solo, Sukoharjo) aku bisa masuk di SLTP N 6, salah satu SLTP favorite di Semarang. Dia biasa dipanggil  Danang, dia tergolong siswa pandai, selalu mendapat peringkat pertama selama 6 tahun duduk dibangku SD. Sedikit kontras denganku, yang hanya berjuang dengan nilai rata-rata kelas saja.
Kehadirannya mampu mengusik hatiku, rambutnya yang tebal dan indah, yah..aku benar-benar terpesona dengan rambutnya yang anggun melindungi otak cerdasnya, itulah awal aku naksir dia. Inilah cinta pertamaku, muncul dibangku SLTP kelas satu. Dia suka duduk di baris kedua dari depan, mudah saja bagiku untuk memilih tempat agak lebih dibelakangnya, supaya aku bebas mencuri pandang tanpa sepengetahuannya. Aku, mulai menjadi pengagum setianya. Aku, ingin selalu bisa di dekatnya.
Sejak saat itu aku bagaikan detektif yang sedang memata-matai mangsa. Aku selalu ingin tahu apa saja yang dia kerjakan di sekolah seperti, kegiatan ekskul apa saja yang dia ikuti. Bahkan aku beranikan diri bertanya pada guru olahragaku yang terkenal killer, apalagi terhadap murid yang kurang pandai berolahraga seperti aku, demi mencari informasi ini. Segala hal tentangnya menjadi penting bagiku. Warna favoritenya, yang belakangan aku tahu ‘ungu’, warna yang kurang lazim disukai oleh cowok menurutku, hobbynya, yang ternyata membaca komik seperti adikku yang paling kecil, jadwal dia datang dan pulang sekolah sudah kuhafal. Pokoknya semua tentang dia harus kuketahui. Kenapa harus begitu? Karena aku cinta. Dan cinta itu mulai bersemi dihatiku, tanpa sepengetahuannya. Aku sudah berhasil mendapatkan nomor telepon rumahnya tapi aku tidak berani untuk menghubungi, meskipun sudah berdiri di depan telepon umum koin waktu menelpon teman-teman, giliran menekan nomor teleponnya begitu berat mengerakkan jari-jari ini, seperti mati rasa saja. Beku.
Aku benar-benar terpesona olehnya. Aku suka cara dia mengangkat tangan sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru biologiku. Entah hanya perasaanku saja atau gayanya memang elegan, ibarat sniper dia seperti sedang mengokang senapan siap menghabisi lawannya. Aku kagum cara dia menjawab pertanyaan, ekspresinya tenang dan santai namun bisa menjawab dengan benar. Aku senang memperhatikan cara dia mengerjakan soal-soal matematika dipapan tulis. Tiap maju untuk menjawab soal di papan tulis dia tidak berbekal catatan apapun seolah-olah dia terlahir untuk menjawab soal itu, dengan tangan kiri disaku celananya adalah khas gayanya yang sering membuatku tersenyum.   Aku suka cara dia mengejar bola basket, dribble, seolah-olah bola itu ibarat bagian dari tangannya, begitu lekat sehingga begitu sulit bagi lawan untuk merebutnya dan kemudian dengan mudahnya dia berhasil  memasukkan bola itu kedalam ring basket karena posturnya yang cukup tinggi, 182cm. Akibat hobby basketnya itu beberapa kali kacamata minusnya pecah kena bola atau mungkin terjatuh saat bertabrakan dengan lawan, memang meski tinggi dia termasuk kurus dibandingkan semua lawannya yang tegap dan besar.
Meskipun aku tidak suka basket, karena ada dia, aku jadi suka memperhatikan anak-anak ekskul basket karena ingin melihat dia tanding atau sekedar latihan. Aku sendiri memilih paskibra yang kebetulan jadwalnya bareng sama basket. Setiap selesai latihan paskibra kadang aku sengaja pura-pura berlama-lama dilapangan agar terus bisa melihatnya entah sekedar membetulkan tali sepatu, membereskan peralatan atau apa sajalah asal bisa memandangnya lebih lama, asal bisa di dekatnya lebih lama. Dari sinilah aku tahu kalau dia selalu pulang paling terakhir untuk berlatih sendiri. Ini moment terbaik yang selalu kutunggu, hanya ada dia, aku dan bola basket dilapangan luas menjelang sunset. Itulah kebersamaan kami.
Kuperhatikan semuanya tak luput sedikitpun dari pengawasanku. Dan hasilnya aku makin jatuh cinta saja sama dia si empunya pemilik rambut bagus, kulit putih, hidung mancung, mata sipit, bibir tebal seksi dan otaknya yang cemerlang. Mungkin ini yang  membuat dia makin banyak ‘penggemar’, makin bikin aku cemburu, makin membuatku mengubur lebih dalam cintaku. Aku sadar, aku bukan satu-satunya penikmatnya. Aku cukup tahu diri. Aku tetap diam dalam cinta dan cemburu ini. Biarlah kusimpan sendiri sambil berharap suatu saat benang waktu yang akan menterjemahkannya. Sekarang, cintaku cukuplah kubungkus dalam diam kuikat dengan pita doa. Hanya aku, Tuhan dan tinta pena dalam diaryku saja yang tahu. Aku diam dalam sadarku, aku hanyalah salah satu dari puluhan pungguk yang merindukan cahaya rembulan dari dia.
◦○◌☼◌○◦
“Mamaaah...!! Sini Mah, coba lihat...!!,” sebuah teriakan gadis muda membuyarkan kenanganku. Segera kurapikan peralatan makan yang sedang kusiapkan, masih dengan sedikit senyum. Ah..masih saja aku teringat hal itu. Bergegas aku menuju asal suara itu.
Dari sela-sela jendela depan, kulihat ada sesosok bidadari kecil. Sambil perlahan kunikmati wajahnya. Cantik. Aku tertegun di pintu rumahku, terkesiap. Bayangan cinta diam yang telah lama kubungkus itu terkuak kembali. Paras wajahnya, agak kabur, tapi aku yakin itu pasti dia. Jantungku bergetar.
“Mamah, ayo Mah. Lihat itu Mah...!,” kembali suara itu menyeruak. Semakin mengaburkan bayangnya, beralih menjadi halaman depan rumahku. Kulihat bidadari kecil itu masih berada di tempatnya. Wajahnya riang. Seriang melati di tetes hujan pertama kali. Sesekali meloncat-loncat kecil kegirangan.
Aku merasa tanganku terseret, sedikit terhuyung. Ada yang menarikku. Satu lagi bidadari menggamit tanganku. Setengah berlari menarikku. Aku berhasil menjaga keseimbanganku. Kuputuskan untuk mengikuti saja kemauannya. Pelan kuikuti kemana tarikan itu membawaku. Di belakang kudengar langkah-langkah kecil. Ternyata bidadari kecil yang pertama setengah berlari mengikutiku. Seperti memastikan agar aku tidak berusaha melarikan diri, “Apa mau dua makhluk ayu ini?,” pikirku. Mereka membawaku ke samping rumahku. Langkah kami pelan-pelan terhenti. Tanganku sudah dilepaskan, tapi aku tak hendak melangkah pergi. Entah kenapa, aku ingin tahu alasan mereka membawaku kesini. Aku penasaran, apa yang berani membuyarkan kenanganku. Kulihat mereka celingukan. Seperti ada yang hilang. Aku masih belum hendak untuk beranjak.
Sesaat kemudian semuanya gelap. Ada yang menyergapku dari belakang. Aku bisa merasakan makhluk ini jauh lebih besar dari dua bidadari itu. Sekilas kudengar tawa kecil mereka. Setengah tertahan. “Jebakan.!!” Aku benar-benar tak menyangka. Kucoba untuk berontak, tapi terlambat, satu tangannya berhasil mengunci pergerakan kedua lenganku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Kini aku dipaksa mengikutinya, aku berjalan mundur, kebalikan dari datangku tadi. Aku merasa dibawa masuk ke suatu bangunan, aku tahu ini karena sengatan panas matahari tidak kurasakan lagi di kulitku. Perlahan, kurasakan tanganku mulai bisa bergerak. Lengannya mengendur. Siluet-siluet cahaya berebutan masuk ke kelopak mataku. Kukerjap-kerjapkan mataku. Dia melepaskan tangannya dari wajahku. Sekilas, kulihat ada yang menarik perhatianku di telapak tangan itu. “Cincin pernikahanku!!” Aku yakin itu. Darimana dia mendapatkannya, heranku. Kuraba jari manis tangan kananku, masih ada. Kelegaan mulai menghampiri batinku. Ditambah telah bebas dari gelap, makin meningkat keberanianku. Masih kudengar tawa bidadari-bidadari kecil itu. Awas pikirku, kalian yang menjebakku. Tapi kutahan dulu niatku. Mudah saja mengurus mereka nanti. Aku mulai memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan sosok yang menyergapku. Kurasakan dia masih berdiri diam di belakangku. Akhirnya nekat, kupaksakan diriku untuk berbalik.
“Wajah itu...!!, bukan...ini bukan bayangan ini. Ini lebih jelas. Ini nyata..!!,” Otakku berputar, jantungku berdegup kencang. Dia harusnya tidak berada di sini. Tidak mungkin.
Perlahan dia mendekatiku sambil angkat bicara, “Selamat Ulang Tahun, Cin...,” kecupannya mendarat di keningku. Kecupan yang hangat dan berat. Kecupan yang benar-benar membawa seluruh kesadaranku kembali. Lututku melemas, semua hal ini terlalu bertubi-tubi. Tapi aku tidak terjatuh, tangan yang tadinya menyergapku, kini tangan ini yang membantuku. Perlahan mendudukkanku. Tangan itu, tangannya..!! jadi... keterkejutanku hanya dibalas senyuman olehnya. Senyumannya yang membawaku kembali ke dunia nyata. Aku yakin aku sudah membungkus cinta diam ku. Rapi, sangat rapi. Kecupan itu, senyuman itu...bukan...itu bukan cinta diamku. Itu cinta sejatiku. Kubalas senyumannya. Belum sempat kubalas kecupnya, dua bidadari kecil tadi sudah memburuku dengan kecupan di masing-masing pipiku. “Selamat Ulang Tahun Mamah...” kupandang ke kiri dan kanan. Kualihkan pandanganku kembali ke depan. Kali ini aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas perbuatannya tadi. Aku juga yakin pasti dia otak dari semua kejadian ini. Dia selalu menggunakan kecerdasannya untuk mengejutkanku. Kujulurkan kedua lenganku memeluknya. Kubelai rambut hitamnya, yang selalu membuatku kagum dengan keindahannya Kukecup pipinya. Sebagai ucapan terima kasihku. Aku tahu itu belum cukup, tapi aku yakin dia cukup paham bahwa aku benar-benar bahagia.
Dia memang cinta sejatiku. Bukan cinta diamku. Ungu bukan warna favoritnya, tapi itu warna favorit kami. Aku tak perlu menghafal lagi kapan dia berangkat dan pulang, karena pasti aku yang kini mengantar dan menyongsongnya. Dia bukan orang yang aku tak punya keberanian untuk menelpon dulu, tapi dia orang yang tidak membiarkanku menelponnya. Ya, karena dia selalu mendahuluiku. Dia bukan pemain basket yang gesit, tapi dia cukup gesit untuk seringkali membuatku terkejut. Bahagia. Dia bukan cinta diamku. Cinta diamku masih terbungkus rapi. Hanya saja, pita doa itu sudah tidak berada di tempatnya lagi. Tuhan mengabulkan doaku. Menjadikanku selalu dekat dengannya, menjadikannya suamiku. Plus, mungkin sebagai bonus atas kesabaranku menunggu selama hampir sepuluh tahun, Tuhan juga memberiku dua bidadari kecil, putri-putriku. Cinta diamku, tetaplah cinta diam. Sekarang, aku sudah cukup dengan cinta sejatiku saja.
 



Cinta Hitam Putih

Alhamdulillah telah terbit buku antologiku ke - 2 **cerpennya nyusul ya, belum berhasil di download.

kalau mau pesen bukunya masih ada kok, ini cover
bukunya :)

Selasa, 02 April 2013

Lomba Blog Semi SEO

 
 
Yuk Teman-teman, ikut juga lomba blog yang satu ini ya..
Lomba blog semi SEO. Mengangkat 2 tema sebagai berikut :
 
1. Sensasi Makan dengan rendang padang "Restu Mande"
2. Rendang Masakan lezat No. 1 di Dunia


Waktu : 22 Maret - 22 April 2013 Sebelum pukul 23.59 WIB
 
Juri : Lygia Nostalina dan Bang Aswi
 
Pemenang akan diumumkan pada hari Senin, 29 April 2013
 
Hadiah :
 
1. Pemenang Utama :
a. Juara I : Rp. 1.000.000,00 dan 2 PRK
b. Juara II : Rp. 750.000,00 dan 2 PRK
c. Juara III : Rp. 500.000 dan 2 PRK
 
2. Pemenang Favorite Mendapatkan 5 PRK
Pemenang Favorite di nilai berdasarkan jumlah share tulisan terbanyak di jejaringan sosial yang di lihat pada blognya masing-masing.
 
3. Lima pemenang hiburan mendapatkan 1 PRK (untuk tulisan terbaik)
 
*) PRK = Pak Rendang Kemasan
 
 
 
 
 




Rendang Padang "Restu Mande"
 
Tanpa MSG dan tanpa pengawet apapun. Dimasak selama 10 jam nonstop dan dikemas hampa udara sehingga mampu bertahan satu tahun penuh. Siap makan tanpa perlu dimasak ulang. Cocok untuk oleh-oleh, hadiah atau bekal kemanapun
 
 
Tersedia berbagai rasa :

 1. Rendang Daging 300gr ORI Rp.67.000,00
2. Rendang Daging 300gr HOT Rp. 69.000,00
3. 300gr Rendang Ayam ORI Rp. 50.000,00
 
 
4. 300gr Rendang Ayam HOT Rp. 52.000,00


 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
Sumber  : Gerai Dhanays
 
Yang berminat silahkan sms kesini ya : 085640401991

Minggu, 31 Maret 2013

Aku, Ibu dan Lelakiku


Ibu...cintamu suci seputih salju
Kasih dan sayangmu begitu tulus
Hangat pelukanmu bagaikan fajar menyapa bumi
Tutur katamu semerdu nyanyian burung nuri
Nasihatmu laksana embun di kemarau panjang hatiku
Kesetiaanmu padaNya dan keluarga memenjarakan ciintaku
Bagaimana aku tidak jatuh cinta 9 kali, atau mungkin 99 kali
Dan kamu lelakiku
Rambut indah yang membungkus otak cerdasmu
Lengan kekar yang siap sedia skupinjam untuk bersandar
Humormu begitu renyah, romantismu meluluhkan jiwa
Iman dan hartamu memaksaku menjadi penghuni hatimu
Dan kini...
Aku milikmu, pelengkap tulang rusuk itu
Aku adalah istri dan ibu dari anak-anakmu
Aku adalah penjaga hati dan harta-hartamu
Kamu ragu, kenapa kamu cemburu kepada ibu
Tak bolehkah aku menyayangi ibuku seperti dulu
Ya...seperti dulu, sebelum kamu datang meminangku

Wahai cupidku arahkan anak panahmu hanya pada hati lelakiku
Jangan berbelok dan salah arah, bunuh semua iri dan cemburu
Biarkan aku, ibu dan lelakiku bebas dari kutukan cinta bebal ini
 
***
Alhamdulillah telah terbit antologiku ke-1
Terselip puisiku diatas dalam buku antologi puisi dengan judul "Kumpulan Puisi Berbagi Kasih"

 

Minggu, 24 Maret 2013

Hari Kotor


Putri sulung saya Aisha, sejak bayi sudah kelihatan kalau dia suka dengan kebersihan. Hal ini nampak ketika dia sedang pup atau popoknya basah akan selalu menangis bila tidak segera saya ganti. Dan ini terbawa hingga dia besar. Di dalam rumahpun selalu memakai alas kaki, sampai umurnya sudah 1,5 tahun dia belum bisa berjalan saya sangat sedih. Berbagai terapi kami jalani seperti mengajaknya berjalan atau “tatah” diatas rumput berembun atau bebatuan. Namun Aisha selalu menangis karena merasa risih kakinya kotor.

Kami tidak mudah putus asa selalu mencoba dan menstimulasinya. Dan bersyukur genap diusianya 20 bulan dia bisa berjalan. Waktu berumur 2 tahun kami memasukkan Aisha ke sebuah Playgroup. Dan masih seperti dulu waktu out bound seperti bermain pasir, menanam padi, menangkap ikan di tambak. Aisha hanya diam dan sukses mematung sebagai penonton saja, bahkan semua guru sudah berusaha membujuknya untuk turut terjun dalam kegiatan tersebut, namun Aisha tetap saja kurang tertarik.

Saat pillow talk bersama suami, kami membahas hal ini. Dan muncul ide cemerlang dari suami untuk menstimulasi sendiri dirumah. Yaitu dengan cara membiasakan Aisha memberi mainan-mainan kotor yang aman. Seperti tepung terigu, ampas kelapa yang diberi pewarna makanan bermacam-macam. Saya mengajaknya untuk turut mengaduk-aduk dan meremas-remas menggunakan tangannya. Awalnya dia juga tidak tertarik, hanya melihat dan mengengam tangannya. Saya tetap asyik dengan tepung terigu warna-warni dicampur dengan air. Sedikit demi sedikit akhirnya dia mulai menyentuhnya, meskipun sekedar menusuk-nusukan jari telujuknya keadonan tepung dan ampas.

Sejak saat itu, saya membuat jadwal bermain dengan hal-hal kotor minimal seminggu sekali. Saya menamainya “Hari Kotor”. Untuk mengihindari kebosanan, obyeknya selalu saya bedakan setiap minggunya. Misalkan minggu ini dengan obyek tanah liat maka minggu selanjutnya pasir atau lumpur begitu seterusnya.

Jika sedang menggunakan obyek tanah liat biasanya kami bermain aneka bentuk dan hurung atau angka yang kami bentuk dari pilinan tanah liat seperti lilin warna. Karena lilin warna sudah sering di gunakan di sekolahnya, maka saya menggunkan tanah liat di rumah supaya Aisha merasa tertarik dengan hal baru yang dia lihat.

Kegiatan memilin-milin tanah liat ini sangat bagus untuk motorik halusnya sehingga memudahkan mengajarkan belajar nulis, jika bosan kadang saya selingi dengan mengunting kertas aneka warna.

Pasir yang saya beli di toko bangunan, saya campur dengan sedikit air sehingga agak basah. Mudah bagi Aisha untuk mencetak pasir tersebut dengan aneka cetakan seperti kepiting, bintang laut, kerang dan aneka binatang air lainnya. Hal ini sambari mengenalkan nama-nama benda yang ada di pantai, binatang air dan lain-lain.

Kadang ampas kelapa yang sudah saya beri warna-warni, saya jemur dan setelah kering saya gunakan untuk kreasi mozaik. Hal ini melatih ketekunan karena menyusun ampas di atas media kertas atau kaca dengan lem itu tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra bagi anak seusian Aisha yang mana waktu konsentrasinya belum bisa bertahan lama.

Memang semua butuh proses, lambat laun akhirnya Aisha begitu menyukai hari kotor ini. Kalau dulu saya melindungi bajunya dengan celemek dan dia nurut saja, sekarang tidak mau pakai celemek. Mungkin dia merasa tidak bebas bergerak.

Mengingat sebuah penelitian, anak jadi mudah menyerap ilmu dimasa balitanya dan disampaikan dengan cara menyenangkan, maka saya tidak menyiayiakan kesempatan ini. Diusianya golden age dengan sarana bermain kotor, saya selalu menyematkan nilai-nilai pendidikan seperti pengenalan warna, bentuk, huruf, angka dengan cara membuat aneka bentuk dengan tanah liat yang saya beli dari toko kesenian atau kadang lilin warna.

Kegiatan ini kadang saya selingi dengan menyanyi dan tebak-tebakan sehingga Aisha tidak mudah bosan. Dan sebisa mungkin saya mengajaknya berhenti bermain sebelum dia merasa bosan. Jadi permaian hari kotor ini tetap menjadi permaian favoritnya.

Aisha sangat menyukainya, sehingga dia juga tidak merasa kalau sebenarnya sedang belajar. Dan hasilnya sungguh luar biasa, diusianya belum genap 5 tahun, dia sudah lancar calistung. (membaca, menulis dan berhitung). Sekarang usianya sudah 6 tahun dan mulai suka menulis cerita. Hal ini saya perhatikan ketika dia selesai menggambar dan mewarnai selalau di balik kertas gambarnya ada beberapa kalimat yang membentuk paragraf menjadi sebuah cerita berisi tentang gambarnya.

Biasanya jika sudah selesai dia minta bintang kepada saya dan minta hasil karyanya itu di foto. Alhamdulillah Aisha putriku menjadi siswa terbaik di sekolahnya. Tidak jarang menjuarai event lomba mewarnai saat mewakili sekolahnya.

 Kemudian metode inipun saya terapkan kepada Keisha adiknya. Ternyata Keisha mempunyai karakter berbeda banget denga kakaknya Aisha. Kalau kakaknya takut dan jijik dengan hal-hal kotor, Keisha tidak sama sekali. Dia sangat berantusias menyambut hari kotor. Tidak perlu stimulasi lagi untuk mengajak dia terjun dalam permainan kotor seperti Aisha dulu.

Dan sekarang sang kakak sudah pintar menjadi guru bagi sang adik, dengan menirukan gaya bicara saya dia juga tidak pernah berhenti sambil mengenalkan semua hal baru kepada adikknya.

Seperti difoto ini, Aisha sedang mengenalkan warna merah, hijau dan konsep kanan, kiri dengan cara menjiplakkan kakinya kedinding setelah dicelupkan dalam piring dengan pewarna makanan. Sesekali mereka bernyanyi sambil tertawa riang. Mereka berdua nampak asyik menikmati cara belajar sambil bermain seperti ini.

Harapan saya mudah-mudahan Keisha bisa mengikuti jejak kakaknya, lancar calistung juga dengan metode ini. Mereka berdua selalu berteriak riang saat saya menyerukan

"Saatnya hari kotorrrr...!" dan langsung disambut dengan kata

"Horeee....!" oleh mereka berdua.

Saya sangat senang dengan temuan ide suami yang begitu brilian ini. Tumbuhlah besar putri-putriku, jangan pernah takut noda lagi untuk bereksplorasi diduniamu. Mama dan Ayah selalu ada buat kalian. Cinta dan doa kami tak kan pernah terputus buat Aisha dan Keisha. Terimkasih ya Robb...telah Kamu percayakan kami untuk menjaga amanahMu ini.

Bimbinglah kami selalu di jalanMu dalam mengasuh dan mendidik mereka. Berilah kami selalu kesabaran yang tak terbatas untuk menghadapi keaktifan mereka. Aamiin.

Sabtu, 23 Maret 2013

Aku dan Aisha


Aisha akan berangkat sekolah.
Sebelum memakai jilbab, Aisha mengucapkan, "Bismillah"
Sebelum melangkan keluar, ia berjalan melalui pintu dan mengucapkan, "Bismillah"
Aisha melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu seperti Aisha mau pakai celana, pakai sepatu, pakai sandal.
Aisha mengucapkan selamat jalan kepada ayahnya.
Ayah menjawab, "Fii amaanillaah"
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba Aisha bersin.
Aisha mengucapkan, "Alhamdulillah"
Mama mendengar dan menjawab, "Yarhamukillah"
Ketika berjumpa dengan bunda guru, Aisha mengucapkan, "Assalamu'alaikum"
Dan Bunda guru menjawab "Wa'alaikumsalam".
Bertemu dengan teman, Aisha disapa "Assalamu'alaikum Aisha..."
Aisha menjawab "Wa'alaikumsalam"
Sebelum pelajaran dimulai, Aisha berdo'a bersama dikelas (biasanya sih Aisha tidak mau mengikuti dan sibuk dengan mainannya hihihi...maklum masih anak-anak...)
Seperti biasanya hari itu Aisha kecilku senang sekali kalau lagi punya buku baru "Aisha Loves To Say Bismillah", karena senangnya kemana-mana buku itu selalu ikut, ke sekolah, warung, jalan-jalan, bahkan sampai meninggalkan hobinya suka main baju sobek-sobek mama sebelum tidur (ngempeng ujung baju mama) dan lebih memilih peluk bukunya
Rasanya lucu sekali kalau dengar Aisha kecilku sedang membaca buku, habis antara ejaan sama bacaan jauh banget, ngejanya bener tetapi bacanya sesuai gambar hahaha. Memang belum bisa baca sih tapi diusianya yang hampir tiga tahun ini, Aisha kecilku sudah bisa baca suku kata ba-bi-bu-be-bo, ca-ci-cu-ce-co dan seterusnya. Setiap mandi suka nempel potongan-potongan suku kata dan sudah menjadi kebiasaan. Jadinya ya otomatis sudah familiar gitu, tiap hari minimal ketemu sama suku kata tersebut dua kali. Padahal kandang sehari mandi sampai tiga atau empat kali, karena panasnya cuaca Jakarta membuat Aisha kecilku pengen mandi terus, sudah gitu kalau mandi maunya pakai acara di shotting juga (narsis abis dech...!!), membuat jam mandinya tambah lama.
Habis mandi ganti baju terus kuncir rambut sesuai permintaannya, pokoknya banyak pilihan, ada model pohon pisang, jaring ikan, kepang, kuncir pilin, ekor kuda, zig zag dan lain-lain. Biasanya dilakukan sambil melihat hasil shottingan saat mandi. Nah, itu kan tidak terasa jadi belajar lagi (baca suku kata suku kata yang sudah ditempel-tempel tadi). Aisha begitu menikmatinya jadi tidak terasa sebenarnya dia sudah belajar berulang-ulang hihihi mamanya curang ya.
Mengingat sistem pendidikan kita sekarang yang menuntut anak harus sudah bisa baca atau bahkan calistung sebelum masuk SD sungguh tantangan buat kita sebagai orang tua. Dimana beberapa SD sudah menerapkan sistem tes baca untuk pendaftaran siswa baru, meskipun sebenarnya tidak dibenarkan namun masih ada sekolah yang melakukannya dengan alasan anak-anak masuk SD harus sudah siap menerima materi, bukan lagi mengenal huruf, "sungguh terlalu".
"Dunia anak adalah dunia bermain" begitu kata Kak Seto, jadi akan sangat membebani anak jika kita para orang tua mencekoki anak dengan berbagai pelajaran atau bahkan memaksanya untuk ikut les calistung demi ketakutan orang tua jika nanti anaknya tidak bisa masuk SD favorite gara-gara belum bisa membaca. Kasihan buah hati kita jadi hilang keceriaannya gara-gara harus belajar ini itu dengan target yang tidak seharusnya.
Jadi para orang tua boleh memberikan pengentahuan kepada buah hatinya dengan cara yang menyenangkan, tanpa paksaan dan lebih baik disampaikan sambil bermain, bercerita, bernyanyai, insya Allah akan lebih efektif. Mudah diterima oleh buah hati kita dan yang lebih penting jangan pernah mentarget kemampuan anak. Ini akan menimbulkan kekecewaan bagi kita jika suatu saat anak kita belum mencapai target yang kita tentukan.
Jika ingin mengajarkan atau memberikan ilmu kepada buah hati kita, maka sampaikannlah dengan bermain. Contoh :
1. Mengenalkan warna
Kita bisa mengenalkan warna-warna kepada buah hati kita dengan main masak-masakan. Air yang di kasih warna warni sambil bermain pasar-pasaran, kita kenalkan dulu warna warna kepada buah hati kita, kemudian untuk mengetesnya apakah dia sudah paham apa belum dengan kita berpura-pura menjadi pembeli, misal beli es rasa melon maka buah hati kita harus menjuali air warna hijau, jika belum benar ajarkan lagi dengan metode yang lain, biar tidak bosan.
2. Mengenalkan huruf
Jika dirumah kita ada karpet lantai huruf-huruf maka jangan sia-siakan fasilitas yang ada. Para bunda bisa sambil bermain mengajarkan huruf-huruf kepada buah hati kita misal, jika kita akan memakaikan celana pada buah hati kita, maka sampaikan "Kakak kalau mau memakai celana berdirinya di karpet huruf C ya" sambil menuntunnya untuk berdiri di karpet huruf C. Bisa kita hitung dalam sehari buah hati kita pipis berapa kali dan akan berkali-kali lepas pakai celana, jadi setiap lepas atau pakai celananya berdiri dihuruf C insyaAllah akan lebih teringat terus dan tidak terasa kan kita sudah mengenalkannya huruf C. 
3. Mengenalkan bentuk
Untuk mengenalkan bentuk, bisa dikenalkan dimana saja kok, misal waktu buah hati kita makan es krim dengan contongnya yang bentuk kerucut, sampaikan saja "Eh kakak es krimnya ini bentuk kerucut, seperti apa ya?" kita berpura-pura tidak tahu atau lupa dan jika memang buah hati kita sudah tahu nanti akan menyebutkan benda-benda yang bentuknya mirip es krim seperti topi ulang tahun, topi pak tani, obor dan lain-lain.

Semua bisa diajarkan dengan bermain, sambil bermain tidak terasa sebenarnya kita telah memberikan ilmu kepada buah hati kita dan tanpa disadari oleh buah hati kita, sebenarnya dia juga sudah belajar banyak. Jadi yang namanya belajar itukan tidak harus duduk manis dimeja belajar pegang pensil, buku, nulis dan membaca.
 Dulu saya pernah kesulitan bagaimana caranya menumbuhkan minat Aisha kecilku untuk gemar mendengarkan dongeng, saya sudah berusaha mendongeng yang menurut saya sudah maksimal namun hasilnya belum tertarik juga. Sampai suatu saat ada teman saya yang sedang mendongeng buat buah hatinya tapi pas kebetualan ada Aisha kecilku disana, tidak nyangka ternyata Aisha kecilku ikut pasang telinga dan melongo, tertawa, tegang mengikuti alur cerita dari teman saya tersebut  yang memang pintar menirukan suara-suara binatang.
Dari sana akhirnya saya bisa belajar dan mencoba mendongeng seperti teman saya, alhamdulillah Aisha kecilku sekarang suka dibacakan cerita, sampai-sampai kami kewalahan hehehe.
Oke buat para bunda selamat berjuang ya, selalu berikan yang terbaik buat buah hati kita...
***
Itu adalah tulisan saya sekitar tiga tahun yang lalu dan sekarang Aisha sudah tumbuh menjadi anak TK B yang cerdas, penuh prestasi di sekolahnya. Aisha mulai suka membaca dan masih seperti dulu jika membaca buku harus dengan tokoh utama Aisha. Agak kerepotan bagi saya mencarikan buku-buku cerita dengan tokoh Aisha. Pernah saya temukan sebuah buku cerita dengan nama tokoh Alya, saya bujuk kalau buku yang saya pegang bagus karena ada mbak Alya di dalamnya (teman bermainnya) dan tetap tidak mau. Harus Aisha, hehe narsis ya..

Pernah saya buatkan cerita sendiri dengan tokoh Aisha tetapi dia juga kurang tertarik, padahal cerita yang saya buat ada gambar ilustrasi juga dari potongan-potongan gambar yang saya ambil dari majalah-majalah. Mungkin karena isi cerita kurang menarik jadi dia tidak suka. Oleh karena itu saya ingin belajar menulis cerita anak khusus buat Aisha dan jika nanti cerita-cerita karya saya banyak yang suka mengispirasi itu adalah bonus. Jadi ini adalah salah satu alasan saya kenapa saya gabung didalam grup BNCA ini. Mohon bimbinganya ya para Bunda yang sudah pintar
J

Terimakasih.

Benda Kesayangan Keisha


Putri keduaku Keisha mempunyai benda kesayangan, hampir  kemanapun dia berada selalu bersama benda kesayangannya. Dan uniknya benda kesayangan ini  bukan berupa boneka lucu atau mainan menarik tetapi hanya berupa rumbai-rumbai ujung bantal kursi. Sejak bayi kira-kira umur dua bulan, Keisha sudah mempunyai kebiasaan menghisap jempol kirinya sambil memeluk bantal kursi yang saya berikan. Lama-lama dia merasa asyik bermain dengan salah satu rumbai-rumbai dari empat sudut rumbai bantal kursi tersebut. Hal ini saya perhatikan disaat dia merasa haus minta ASI dan saya telat memberikannya maka secara reflek dia menghisap jempolnya sambil tangan kanannya megusap atau membelai-belai rumbai itu.

Sejak itulah kalau melihat sesuatu yang berbulu rumbai seperti rumbai sajadah atau taplak meja selalu menarik perhatiannya. Saat usianya sembilan bulan Keisha sudah mulai belajar berjalan (rambatan). Berjalan dengan berpegangan dinding, mesin jahit, kursi lancar-lancar saja dan langkahnya begitu cepat tetapi begitu sampai meja dengan taplak rumbai, dia langsung berhenti menghisap jempol sambil membelai rumbai meja dan sandaran dimeja. Aku langsung tertawa saat itu, sayang sekali tidak terpikirkan untuk mengabadikan moment itu dalam sebuah foto, padahal ekspresinya lucu sekali.

Pernah suatu hari kami pulang kampung ke Semarang saat itu lupa tidak membawakan benda kesayangannya ( rumbai ujung bantal yang suami sebut “uceng”). Akhirnya selama di perjalanan dalam kereta api saat menjelang tidur Keisha rewel hebat karena tidak bersama ucengnya. Kami berusaha membujuknya dengan mengalihkan perhatian mengajaknya bernyanyi, bercerita dan bermain tetapi tidak berhasil. Dan semalaman dia gelisah rewel minta ucengnya. Berpasang-pasang mata memperhatikan ke arah kami, seolah bicara bahwa mereka terganggu dengan tangisan Keisha. Saya sampai merasa sungkan kepada penumpang lainnya, hanya bisa menunduk-nunduk sambil mengucapkan maaf bersama Keisha dalam gendongan saya. Bahkan di kasih ASIpun tidak mau.

Mungkin karena lelahnya menangis, akhirnya Keisha tertidur. Sungguh tidak tega melihat matanya merah dan bengkak karena menangis terlalu lama. Kuciumi muka mungilnya dengan penuh rasa minta maaf atas kelalaianku sendiri karena lupa membawakan benda kesayangannya.

Alhamdulillah saat terdengar suara azan Subuh, kami sudah berada di stasiun Tawang Semarang. Dan Keisha masih tidur nyenyak dalam gendongan saya. Begitu pagi saat bangun tidur, dia teringat lagi akan ucengnya dan merengek lagi minta diambilkan. Atas ide ibu mertua saya, dia diberi sajadah muka dengan rumbai-rumbai sebagai aksesorisnya dan dia mau. Langsung diam, anteng mengisap jempol sambil membelai-belai rumbai sajadah. Ya Allah sebegitunya kamu Nak mencintai ucengmu, gumanku.

***

Sampai sekarang Keisha sudah berumur 2,5 tahun masih mencintai benda itu seperti dulu. Jika kami begitu mudah menyapih dia dari ASI tetapi tidak dengan menyapih dia dari mengisap jempol bersama ucengnya. Kami begitu kesulitan menghilangkan kebiasaan buruknya menghisap jempol itu. Padahal dia sudah mulai sekolah PAUD dan saat sekolahpun tidak lupa membawa ucengnya di dalam tas, meskipun disekolah tidak dikeluarkan karena malu dengan temannya tetapi jika ketiggalan aku diminta mengambilnya.

Sampai saat ini kami masih berusaha untuk menghilangkan kebiasaannya dari menghisap jempol sambil membelai uceng dengan mengajaknya bermain dengan permainan-permainan yang melibatkan gerakan tangan. Seperti bemain cublak-cublak sueng, bermain tepuk tangan, menyebutkan nama-nama jari kadang mengajaknya bermain game via komputer atau ipad. Jika sedang bermain begitu dia lupa, tetapi jika kami lengah sebentar saja langsung kembali dengan keasyikan menghisap jempol.

Karena kebiasaan buruk yang begitu lama, sekarang dua gigi Keisha agak maju kedepan. Jika terus begini dibiarkan tidak mentup kemungkinan dia akan mempunyai bentuk gigi yang tidak bagus karena maju kedepan dan perlu di behel atau kawat gigi. Selai itu Keisha jadi tidak begitu jelas menyebutkan beberapa kata.

Ternyata selama kurang lebih dua setengah tahun, uceng Keisha mengalami beberapa perubahan bentuk.

1.      Berupa sarung bantal kursi lengkap dengan isinya

2.      Sarung bantal kursi saja tanpa bantalnya karena Keisha merasa berat membawa kemana-mana, akhirnya bantalnya di keluarkan dari sarungnya.

3.      Hanya diambil satu rumbai dari keempat rumbai yang ada di sudut bantal kursi (lebih ringan dan tidak ribet).

4.      Dari satu rumbai tersebut, mulai dipotong sendiri oleh Keisha dan menjadi lebih kecil.

 

Inilah penampakan fotomorfosis uceng Keisha :
 

Nah ibu-ibu disini adakah yang mempunyai pengalaman sama dengan saya, sang buah hati mempunyai benda kesayangan sedemikian rupa. Karena saya juga mempunyai teman yang seperti Keisha, dia sangat suka dengan ujung bantang kesayangannya yang menurutnya lembut. Dia tidak akan bisa tidur tanpa membelai ujung bantal tersebut. Dan itu terbukti saat bermalam di rumahku dan lupa membawa ujung bantalnya, akhirnya aku ikut begadang menemani dia sampai pagi. Huaammm jadi ngantuk.