Tampilkan postingan dengan label Antologiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologiku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2013

Putus Nyambung ke 13


Tanggal 13 Februari 2012 sebelum datangnya hari valentine sekaligus hari ulang tahunku, aku mendapat kejutan luar biasa dari kekasihku. Danang.  Via sms dia bercerita besok tidak bisa merayakan hari ulang tahunku bersamanya karena ada pertandingan sepak bola di luar kota yang harus dia hadiri bersama timnya. Sebagai kekasih seorang pemain sepak bola, aku bisa memahami hal ini.

Malam itu dia meminta menutup mataku dengan kain yang sudah dia siapkan. Suasana hening sesaat, aku  masih duduk disampingnya lengkap dengan sabuk pengaman sesekali kurasakan gengaman tangan dan bisikan lembut kata cintanya di telinga kananku, mungkin dia melakukannya saat di traficlight.

 “Aku akan kamu bawa kemana Dan?” tanyaku saat pintu mobil mulai dibuka olehnya

“Nanti kamu juga akan tahu Valen” jawabnya sambil menuntun langkahku.

Sungguh aku tidak bisa menebak sedang berada dimana aku ini, tempat ini begitu asing bagiku. Kurasakan udara dan angin malam yang begitu dingin menusuk tulang, karena aku hanya mengenakan kaos tanpa lengan dengan motif angka 13 di belakangnya. Aku jadi suka angka 13 sejak menjadi kekasihnya, karena dia seorang pemuja angka 13 yang menurut banyak orang adalah angka sial. Tetapi tidak bagi dia yang selalu lucky dengan gol-gol cantik yang bisa dia cetak jika sedang memakai kaos dengan nomor dada 13 saat bertanding. Dan dia besok bertanding lagi, aku yakin gol-gol cantik tetap bisa dia cetak meskipun aku tidak menyaksikannya karena angka 13 ada di dadamu sayang.

“Stop Valen...kita sudah sampai” bisiknya sambil menghentikan langkahku. Perlahan kurasakan kain penutup mataku mulai terbuka. “Valen..sekarang buka matamu”. Kubuka mataku perlahan, aku masih tidak percaya dengan penglihatanku karena hanya gelap yang kudapati. Kukercap-kercapkan, kemudian ada setitik cahaya kecil. Ya, kulihat sebuah lilin kecil diatas meja bernomor 13.

“Dan tempat apa ini, tidakkah berlebihan?”

“ Kita sedang  berada di belakang hotel mercure Ancol Valen, lihatlah itu adalah pantai Ancol. Selalu ada yang lebih buat kamu Sayang”.

“Sungguh ini berlebihan buatku Dan” bisikku dalam hati, masih sambil melihat semua hidangan istimewa yang sudah tersaji diatas meja. Ada kepiting bakar, cumi bakar dan masih banyak lagi menu seafood kesukaanku lainnya. Bahkan aku menghitungnya dalam hati. Ya Tuhan, jumlah menu inipun ada 13 lengkap dengan buah dan desertnya.

“Hai..Valentina kok ngalumun, ayo duduk sini” katanya sambil menarik sebuah kursi untukku.

“Eh iya terimakasih”.

 Tawa kecil kami sesekali terdengar diantara obrolan ringan sambil menikmati hidangan, sampai  Dan mengengam tanganku dan heningpun tercipta.

“Valen, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan kepadamu”

“Ada apa Dan? Katakanlah!”

Sungguh apa yang kudengar dari bibirnya sulit untuk dipercaya. Serasa diajaknya terbang di langit lapisan teratas dan kemudian di hempaskannya lagi ke bumi lapisan terbawah. Setelah semua kejutan indah yang begitu istimewa membuatku terlena dan bahagia. Sekarang dia bilang akan mengakhiri hubungan kami, dengan alasan lelah atas semua amarahku . Karena  selalu minta putus jika sedang berantem dan kemudian nyambung lagi.

Katanya dia merasa bosan selalu menjadi pihak yang harus membujuk dan memberi pengertian bahwa dia begitu mencintai aku dan tidak mau aku memutuskannya. Akhirnya kami balikan, begitu seterusnya selama 3 tahun hubungan kami. Jika di hitung sudah 12 kali kami putus nyambung, kemudian apakah ini akan menjadi putus nyambung yang ke 13. Ah tidak, kurasa semua memang akan benar-benar berakhir. Selama ini dia belum pernah berbohong kepadaku.

“Ciyus, miapah?” tanyaku berusaha menyembunyikan rasa kecewa dan bercanda. Tetapi kembali dia mengulang alasan yang sudah dia ceritakan tadi. Akhirnya jebol juga air ini, yang dari tadi berusaha kubendung.  Aku menangis sejadi-jadinya, tidak peduli berpasang mata menatapku. Udara dan angin pantai yang tadinya dingin begitu panas kurasa.

Aku berusaha berlari darinya karena tidak ada taxi yang bisa ku tumpangi, dia pun tidak kalah cepat mengejarku. Dia berhasil menangkapku ditepi jalan itu, aku masih menangis dengan muka tertutup kedua tanganku. Kurasakan pelukannya sambil berbisik “Selamat ulang tahun Valentina, aku sayang kamu bidadariku”.

Sungguh drama yang indah, menjelang hari ulang tahunku yang ke 20. Inilah kado yang tidak akan pernah ku lupakan darimu Dan. Ya, ini adalah putus nyambung kita yang ke 13. Ternyata begini sakitnya mendengar kata putus dari orang yang kita sayangi, tetapi aku begitu mudahnya mengucapkan kepadamu. Aku tidak mau lagi mengucapkannya, aku berharap tidak ada putus nyambung berikutnya. Semoga putus nyambung ke 13 ini menjadi terakhir dalam kisah kita.
***
Masih banyak lho kisah menarik lainnya dalam buku antologi "Misteri Angka 13"

Selasa, 15 Oktober 2013

Si Workaholic


 
Suamiku adalah tipe orang workaholic jika sudah bekerja bisa jadi lupa segalanya. Lupa makan, lupa tidur, lupa kalau di rumah itu ada anak istri dan lain-lain. Untung ya punya istri seperti aku yang super cerewet mengingatkan. Setiap saat setiap menit sering sms atau menelponnya sekedar mengingatkan.

            “Ayah, sudah makan?”

“Ayah sudah sholat?”

“Ayah sudah minum obat?”

Bahkan tidak jarang aku menyuapinya saat dia sedang mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Karena sudah waktunya makan tetapi belum makan juga, padahal sudah saya siapkan di piring lengkap dengan lauk dan sayur berkuah. Jika tidak segera dimakan, nasi jadi melar tidak enak. Sampai anak-anakku bertanya kepadaku,

“Mama, ayah sudah besar kok makannya masih disuapi?”

“Iya Kak, mama kan sayang ayah..” suamiku menimpali dengan mulut masih penuh nasi dan kedua tangannya sibuk mengetik diatas keybord laptop.

Meskipun kadang aku merasa cemburu dengan pekerjaannya, aku merasa diduakan tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena itu memang sudah menjadi tuntutan  pekerjaan. Disisi lain aku juga bangga mempunyai suami dengan dedikasi yang tinggi. Dan sering mendapatkan penghargaan prestasi kerja yang baik dari atasannya.

Jika dia sedang dinas luar kota, akulah ibu dan bapak bagi anak-anakku. Semua pekerjaan yang biasa kami kerjakan berdua, kini ku kerjakan sendiri karena kami tidak pernah mempunyai seorang pembantu. Mulai dari antar jemput kakak ke sekolah maupun bimbel. Kadang tengah malam harus berobat ke dokter karena si kecil mendadak sakit deman dan diary. Dalam kondisi hujan deras ku gendong kakak di belakang dan adik di depan, langkahku terseok-seok membawa beban dua tubuh bocah yang tidak ringan. Tangan kananku membawa payung, menembus tabir hujan dan dinginnya malam menuju jalan raya untuk naik bajaj.

Demi mereka aku bisa tegar dan kuat menjalaninya, aku tidak mau terlambat membawa adik ke dokter karena penyakitnya. Meskipun sebenarnya hati ini menjerit, aku berusaha tersenyum didepan mereka. Ya, selama perjalanan ke dokter suamiku terus menanyakan kabar kami via sms, bisa ku rasakan begitu cemasnya dia di sana. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, jarak yang begitu jauh karena sedang menjalani dinas di Aceh selama satu minggu dan aku di Jakarta hanya dengan kedua putri kecilku. Tak ada satupun saudaraku atau orang tua yang tinggal di Jakarta, tetanggapun kami tidak begitu akrab karena memang baru pindah dinas dari Sampit.

Sesekali ku lihat wajah adik dalam balutan selimut yang ku dekap di dada, badannya deman, wajahnya pucat dan matanya kelihatan cekung. Sementara sang kakak sesekali mengeluh kalau punggungnya basah oleh air hujan, karena payung yang kami pakai tidak bisa melindungi dengan sempurna.

Suamiku, tahukah kamu? Meskipun bayak hal yang bisa ku lakukan sendiri tanpamu. Tetapi tetap ada hal-hal yang tidak bisa ku lakukan sendiri jika aku sedang rindu padamu. Rindu akan belaian dan kasih sayangmu, rindu akan peluk dan kecup ringan bibirmu. Aku tidak bisa melakukan itu semua sendiri tanpamu. Oleh karena itu, aku perlu rentang pelukmu, aku butuh bahumu untuk bersandar ketika lalah mendera, aku butuh penawar dari semua rindu yang ada.

Ku akui kami tidak pernah sedikitpun kekurang dalam hal materi, tetapi kami begitu haus akan peluk dan belai kasihmu, kami rindu kebersamaan yang dulu pernah terbina dengan indah. Tidak..tidak seperti saat ini dimana engkau lebih sibuk dengan pekerjaan dan semua gadgetmu.

Saat dalam kereta api perjalanan pulang kampung pun dia masih sibuk bekerja dengan laptopnya. Sesekali mengangkat telepon yang tak henti-hentinya berdering dari HP satu dan yang lainnya. Di dalam tas ransel suamiku yang selalu dibawa kemana-mana itu ada dua unit laptop, dua unit ipad dan tiga unit handphone. Aku pernah mengangkatnya bergemingpun tidak, sungguh berat. Bahkan disaat hari liburpun dia masih lembur di kantor, tidak adakah sedikit waktu buat kami?

Ku coba bicara baik-baik kepadanya hasilnya sama saja, tidak ada perubahan sedikitpun. Hatiku semakin menangis, kami merasa semakin jauh saja dengannya. Sedih jika kakak bertanya

 “Mama kapan ayah pulang?”

Aku tidak pernah menjawabnya, namun langsung ku telponkan suamiku biar kakak bertanya langsung kepada ayahnya. Dan jika sudah begitu sang kakak tidak pernah lagi bertanya kapan ayah pulang sampai suamiku pulang.

Jika aku sedang ingin bercerita banyak kepadanya, semua kutuangkan dalam coretan dan seolah-olah aku sedang bercakap dengannya. Karena bila sedang di telpon dan ingin bicara banyak pun, seringnya telponku di akhiri dengan halus.

“Maaf ya Mama, ayah sedang ada rapat. Nanti ayah telpon balik”

Sesekali ku tag dia via note di facebook atau kadang ku email semua coretan isi hatiku yang sedang marah, sedih, rindu atau sekedar cerita-cerita kecil tentang perkembangan anak-anak yang dia belum tahu.

Ini sedikit kutipan note di facebooku untuk dia yang aku dapat dari fanpage La Tahzan.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari Minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja. Dan seterusnya.

Setelah membaca note itu, suamiku sedikit berubah. Pulang lebih awal dan sering makan siang di rumah. Di hari Minggu mengajak kami rekreasi. Tetapi sayang hal ini berlangsung hanya beberapa bulan saja. Sisanya sampai hari ini seperti sebelumnya, sering pulang malam. Membawa pekerjaan kantor ke rumah dan lain-lain yang menyita banyak waktunya hingga tidak tersisa buat kami.

Doa dan harapku tidak pernah kering di bibir agar suamiku seperti dulu yang pintar membagi waktu antara pekerjaan, kuliah dan keluarganya. “Kami menyayangimu Ayah..”
 
***
Baca kisah menarik lainnya dalam buku "Harapku Untukmu"
 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Menyulap Sampah Menjadi Ipad


Saya adalah ibu rumah tangga dengan kesibukan sehari-hari mengelola online shop saya “Gerai Dhanays”. Selain itu, saya mempunyai hobi menulis dan mengikuti berbagai lomba atau kuis baik via online maupun offline. Tidak jarang saya melibatkan suami dan anak-anak sebagai model untuk lomba foto yang saya ikuti.

Mengikuti berbagai lomba atau event menulis membuat otakku aktif untuk berfikir dan menelurkan ide-ide liar yang siap untuk berkompetisi dengan kontestan lainnya. Dengan begitu secara tidak langsung jadi terasah setiap saat dan tidak bebal karena diam. Sebagai seorang kuter atau kuis hunter saya dituntut pandai dan cerdik dalam menampilkan karya yang akan di lombakan. Jadi hasil karya bisa unik, tidak pasaran dan mempunyai nilai jual tinggi. Seperti misalnya lomba resep masakan, maka saya akan memeras otak bagaimana cara menciptakan resep masakan yang sehat, lezat, bahan-bahan mudah didapat dan tidak ribet dalam proses membuatnya.

Dalam kesempatan ini saya akan bercerita tentang kisah lomba yang pernah saya ikuti ditahun 2011 yang diselenggarakan oleh fanpage Fitactive. Yaitu sebuah fanpage untuk minuman kemasan bervitamin. Dalam lomba tersebut diharapkan para kontestan membuat kreasi atau prakarya dari botol bekas kemasan minuman fitactive. Boleh di pakai seluruh botolnya atau diambil plastik luarnya saja.

Baru beberapa hari sudah begitu banyak kontestan mengupload foto kreasi kemasan fitactive yang sangat kreatif-kreatif ada yang membuat replika sepeda, membuat jas hujan, bunga plastik, payung dan lain-lain. Sungguh saat itu saya dibuatnya keder sebelum bertanding karena karya kontestan pada wow semua. Begitu cepat mereka membuat kreasi-kreasi yang bagus itu.

Aku terus berfikir bagaimana caranya menciptakan hasil kreasi dari botol fitactive yang unik, menarik dan mengelitik hati juri tentunya. Sambil mengumpulkan botol-botol fitactive yang saya beli dari pemulung, saya tak berhenti berburu ide tersebut.

***

“Adik ini skuter kakak...mana kakak mau pakai dulu”

“Tidak mau, adik juga mau pakai”

“Kakak, Adik...main skuternya berdua ya. Jangan berebut” nasehatku kepada kedua putriku yang sedang berebut main skuter.

“Tidak mau...tidak mau...ini kan skuter kakak yang belikan ayah”

Hurff..namanya anak-anak kalau sudah berebut tidak bisa mendengarkan nasihat untuk bisa berbagi. Dan akhirnya si adik nangis dipelukku karena kalah berebut skuter dengan kakaknya.

Saat itulah cling muncul ide cemerlang untuk membuat kreasi replika skuter atau otoped dari botol bekas fitactive. Ide datang justru saat saya tidak memikirkannya. Mungkin karena pikiran bawah sadarku sudah terprogram bagaimana menciptkan kreasi yang unik. Maka secara langsung jadi merekam segala hal yang ada disekitarku untuk menelurkan ide tersebut. Akhirnya kubujuk adik untuk diam dan menjanjikan dia dengan ku buatkan skuter mainan. Alhamdulillah dia mau diam dan bermain lainnya.

Keesokan harinya setelah semua botol fitactive mulai banyak, kusiapkan semua peralatan seperti gunting, kawat, lakban, lilin, korek api dan lain-lain. Bersama anak-anak saya bekerja untuk menciptakan replika otoped tersebut. Mereka membantu mengunting lakban, memegang botol ketika aku menyambungkannya menjadi replika otoped. Tidak sampai satu hari replika otopedpun jadi dan si kecil senang sekali memainkannya. Di dorong kesana-kemari mondar-mandir bermain bersama kakaknya, tidak berebut lagi. Anak senang mamapun tenang.

Malam harinya setelah anak-anak tidur, aku minta kepada suamiku untuk menjadi model otoped karyaku, dia bersedia ku foto dengan berbagai pose. Setelah edit foto, bismillah upload foto ke fanpagenya. Karena boleh mengirim lebih dari satu kreasi maka saat itu aku mencari ide lagi untuk membuat kreasi lainnya. Terus terang tergiur banget dengan hadiahnya yang begitu cetar membahana badai yaitu dua unit ipad 2 untuk dua pemenang dan uang @Rp. 500.000,00 untuk 16 pemenang. Banyakkan?

Kreasi keduaku adalah tempat sandal plastik gantung dari bahan plastik luar botol fitactive dengan model foto anakku yang kecil. Aku cukup berperan dibalik layar.

***

Hari yang dinantipun tiba, yaitu pengumuman. Tetapi sayang saat itu aku sedang pulang kampung dan tidak membawa modem, jadi tidak bisa melihat hasil pengumuman. Tetapi karena mempunyai banyak teman kuter yang ikut juga dalam kontes itu dan mempunyai nomer hand phoneku, merekapun sms mengucapkan selamat karena ada namaku di urutan kedua sebagai pemenang dengan hadiah satu unit ipad 2.

Sungguh tak percaya rasanya saat membaca sms dari temanku itu. Saking senangnya sampai ku ciumi pipi bapakku yang saat itu sedang duduk bersama di sofa. Padahal selama ini aku tidak pernah menciumnya karena malu sudah besar. Bapakku sampai terheran-heran melihat kegiranganku yang luar biasa.

Senang, haru dan bahagia saat bisa online dan melihat sendiri pengumuman yang sudah keluar, ada dua judul kreasiku di daftar pengumuman yaitu replika otoped dan tempat sandal plastik. Subhanallah semua karyaku ternyata menang. Selain dapat satu unit ipad 2 saya juga memenangkan uang Rp. 500.000,00. Alhamdulillah ucapku lirih tak terasa ada bulir hangat yang menetes. Terharu karena dari sampah botol minuman bisa kusulap menjadi ipad 2 dan uang Rp. 500.000,00. Mungkin benar jika ide itu mahal harganya.

Sampai sekarang saya masih sering memenangkan aneka lomba foto, resep masakan, prakarya maupun audisi menulis. Minimal sebagai kontributor. Hadiahnyapun beragam mulai dari sekedar pulsa, tiket nonton film, buku, voucher discont menerbitkan buku, produk, voucher belanja, uang cash, hand phone, tiket mudik pesawat PP sampai ipad 2 sudah mendapat dua unit. Alhamdulillah. Begitu banyak teman-teman kirim pesan via inbox facebook atau sms dan menanyakan.

“Apa sih rahasianya selalu menang lomba foto mbak?”

“Gimana mbak kok bisa sering lolos audisi nulis?”

“Wah Jeng hokimu gede ya...bagi-bagi resepnya donk, kok bisa menang terus”

“Mau tahu apa mau tahu banget?”

Jawabku bercanda dan emotion tertawa lebar terbaca di ruang chatku dengan si penanya. Akhirnya saya pun membalasnya dengan tips-tips ala saya yang katanya sering menang. Dia nampak puas dengan jawaban tersebut.

Pastinya semua itu tidak lepas dari turut campur tanganNya atas keberhasilan yang sudah saya raih selama ini. Alhamdulillah terimakasih ya Robb atas semua yang terbaik dalam hidupku. Semoga tidak menjadikan aku sombong dan tetap bisa bersyukur, aamiin.

Rabu, 03 April 2013

Cinta dalam Diam

Alhamdulillah telah terbit antologiku yang ke-6
Spesifikasi buku sebagai berikut :

Judul : Antara Aku dan Dia
Pengarang : Muhammad Dede Firman – Nira Kunea, dkk
Ukuran : 14 cm x 20 cm
Tebal : vi + 166 hlm
Harga : 40.000
 
SINOPSIS :


 Nea
Ya. Aku menyukainya. Lelaki yang bernama Andy itu. Bukan karena dia tampan, ataupun kaya, tetapi lebih kepada chemistry yang aku rasakan ketika aku berada di dekatnya. Seharusnya, dia tahu kalau aku menyukainya.
Lewat pertanda yang kuberikan padanya.
Caraku menatapnya. Caraku berbicara padanya.
Memang, aku sering bersikap lain kepada orang yang aku suka. Bukan jaim, tapi sepertinya memang lebih kepada salting. Jantungku bisa tiba-tiba berdebar keras sekali saat berada di sampingnya. Ada rasa yang bergelenyar hangat di dalam hati. Rasa yang membuatku nyaman.
Namun, ada satu hal yang belakangan baru aku sadari. Dia ternyata masih memanggilku kakak.

 ***

 Andy
Kakak.
Entah mengapa, ada yang sedikit janggal dengan kata itu. Mungkin, aku menganggapnya begitu karena aku terlalu ingin menambahkan embel-embel ‘sayang’ di belakangnya.
Kakakku sayang.
Ah, seandainya itu bisa jadi nyata. Aku tidak tahu apakah dia juga suka padaku atau tidak. Memang, sebagai seorang laki-laki, aku terlalu pengecut untuk menyatakan cinta terlebih dahulu.
Aku takut kalau dia tidak menerimaku.
Sebagai seorang laki-laki, aku tergolong orang yang sulit untuk memberi pertanda kalau aku suka padanya. Selama ini, aku hanya bisa tersenyum saat bertemu dengannya. Merasakan nikmatnya debaran di jantungku saat aku bersamanya.
Mengiriminya pesan.
Memberinya perhatian ….
Tapi, apakah itu sudah cukup untuk memberinya pertanda, kalau aku suka dengannya?


Bagaimana kalau sebuah cerpen ditulis oleh dua orang? Sulit gak sih? Bagaimana hasilnya? Baca buku ini dan lihat karya-karya mereka.

 
 
Cinta Diam
By : Danang Kurniawan & Zulzilah Arth 
SLTP N 6 SEMARANG, disinilah pertama kali aku melihatnya dalam satu kelas yang sama yaitu 1F, kira-kira tahun 1994. Dari segi prestasi memang aku bisa dibilang lumayan cerdas, buktinya meskipun aku berasal dari SD di kampung (Solo, Sukoharjo) aku bisa masuk di SLTP N 6, salah satu SLTP favorite di Semarang. Dia biasa dipanggil  Danang, dia tergolong siswa pandai, selalu mendapat peringkat pertama selama 6 tahun duduk dibangku SD. Sedikit kontras denganku, yang hanya berjuang dengan nilai rata-rata kelas saja.
Kehadirannya mampu mengusik hatiku, rambutnya yang tebal dan indah, yah..aku benar-benar terpesona dengan rambutnya yang anggun melindungi otak cerdasnya, itulah awal aku naksir dia. Inilah cinta pertamaku, muncul dibangku SLTP kelas satu. Dia suka duduk di baris kedua dari depan, mudah saja bagiku untuk memilih tempat agak lebih dibelakangnya, supaya aku bebas mencuri pandang tanpa sepengetahuannya. Aku, mulai menjadi pengagum setianya. Aku, ingin selalu bisa di dekatnya.
Sejak saat itu aku bagaikan detektif yang sedang memata-matai mangsa. Aku selalu ingin tahu apa saja yang dia kerjakan di sekolah seperti, kegiatan ekskul apa saja yang dia ikuti. Bahkan aku beranikan diri bertanya pada guru olahragaku yang terkenal killer, apalagi terhadap murid yang kurang pandai berolahraga seperti aku, demi mencari informasi ini. Segala hal tentangnya menjadi penting bagiku. Warna favoritenya, yang belakangan aku tahu ‘ungu’, warna yang kurang lazim disukai oleh cowok menurutku, hobbynya, yang ternyata membaca komik seperti adikku yang paling kecil, jadwal dia datang dan pulang sekolah sudah kuhafal. Pokoknya semua tentang dia harus kuketahui. Kenapa harus begitu? Karena aku cinta. Dan cinta itu mulai bersemi dihatiku, tanpa sepengetahuannya. Aku sudah berhasil mendapatkan nomor telepon rumahnya tapi aku tidak berani untuk menghubungi, meskipun sudah berdiri di depan telepon umum koin waktu menelpon teman-teman, giliran menekan nomor teleponnya begitu berat mengerakkan jari-jari ini, seperti mati rasa saja. Beku.
Aku benar-benar terpesona olehnya. Aku suka cara dia mengangkat tangan sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru biologiku. Entah hanya perasaanku saja atau gayanya memang elegan, ibarat sniper dia seperti sedang mengokang senapan siap menghabisi lawannya. Aku kagum cara dia menjawab pertanyaan, ekspresinya tenang dan santai namun bisa menjawab dengan benar. Aku senang memperhatikan cara dia mengerjakan soal-soal matematika dipapan tulis. Tiap maju untuk menjawab soal di papan tulis dia tidak berbekal catatan apapun seolah-olah dia terlahir untuk menjawab soal itu, dengan tangan kiri disaku celananya adalah khas gayanya yang sering membuatku tersenyum.   Aku suka cara dia mengejar bola basket, dribble, seolah-olah bola itu ibarat bagian dari tangannya, begitu lekat sehingga begitu sulit bagi lawan untuk merebutnya dan kemudian dengan mudahnya dia berhasil  memasukkan bola itu kedalam ring basket karena posturnya yang cukup tinggi, 182cm. Akibat hobby basketnya itu beberapa kali kacamata minusnya pecah kena bola atau mungkin terjatuh saat bertabrakan dengan lawan, memang meski tinggi dia termasuk kurus dibandingkan semua lawannya yang tegap dan besar.
Meskipun aku tidak suka basket, karena ada dia, aku jadi suka memperhatikan anak-anak ekskul basket karena ingin melihat dia tanding atau sekedar latihan. Aku sendiri memilih paskibra yang kebetulan jadwalnya bareng sama basket. Setiap selesai latihan paskibra kadang aku sengaja pura-pura berlama-lama dilapangan agar terus bisa melihatnya entah sekedar membetulkan tali sepatu, membereskan peralatan atau apa sajalah asal bisa memandangnya lebih lama, asal bisa di dekatnya lebih lama. Dari sinilah aku tahu kalau dia selalu pulang paling terakhir untuk berlatih sendiri. Ini moment terbaik yang selalu kutunggu, hanya ada dia, aku dan bola basket dilapangan luas menjelang sunset. Itulah kebersamaan kami.
Kuperhatikan semuanya tak luput sedikitpun dari pengawasanku. Dan hasilnya aku makin jatuh cinta saja sama dia si empunya pemilik rambut bagus, kulit putih, hidung mancung, mata sipit, bibir tebal seksi dan otaknya yang cemerlang. Mungkin ini yang  membuat dia makin banyak ‘penggemar’, makin bikin aku cemburu, makin membuatku mengubur lebih dalam cintaku. Aku sadar, aku bukan satu-satunya penikmatnya. Aku cukup tahu diri. Aku tetap diam dalam cinta dan cemburu ini. Biarlah kusimpan sendiri sambil berharap suatu saat benang waktu yang akan menterjemahkannya. Sekarang, cintaku cukuplah kubungkus dalam diam kuikat dengan pita doa. Hanya aku, Tuhan dan tinta pena dalam diaryku saja yang tahu. Aku diam dalam sadarku, aku hanyalah salah satu dari puluhan pungguk yang merindukan cahaya rembulan dari dia.
◦○◌☼◌○◦
“Mamaaah...!! Sini Mah, coba lihat...!!,” sebuah teriakan gadis muda membuyarkan kenanganku. Segera kurapikan peralatan makan yang sedang kusiapkan, masih dengan sedikit senyum. Ah..masih saja aku teringat hal itu. Bergegas aku menuju asal suara itu.
Dari sela-sela jendela depan, kulihat ada sesosok bidadari kecil. Sambil perlahan kunikmati wajahnya. Cantik. Aku tertegun di pintu rumahku, terkesiap. Bayangan cinta diam yang telah lama kubungkus itu terkuak kembali. Paras wajahnya, agak kabur, tapi aku yakin itu pasti dia. Jantungku bergetar.
“Mamah, ayo Mah. Lihat itu Mah...!,” kembali suara itu menyeruak. Semakin mengaburkan bayangnya, beralih menjadi halaman depan rumahku. Kulihat bidadari kecil itu masih berada di tempatnya. Wajahnya riang. Seriang melati di tetes hujan pertama kali. Sesekali meloncat-loncat kecil kegirangan.
Aku merasa tanganku terseret, sedikit terhuyung. Ada yang menarikku. Satu lagi bidadari menggamit tanganku. Setengah berlari menarikku. Aku berhasil menjaga keseimbanganku. Kuputuskan untuk mengikuti saja kemauannya. Pelan kuikuti kemana tarikan itu membawaku. Di belakang kudengar langkah-langkah kecil. Ternyata bidadari kecil yang pertama setengah berlari mengikutiku. Seperti memastikan agar aku tidak berusaha melarikan diri, “Apa mau dua makhluk ayu ini?,” pikirku. Mereka membawaku ke samping rumahku. Langkah kami pelan-pelan terhenti. Tanganku sudah dilepaskan, tapi aku tak hendak melangkah pergi. Entah kenapa, aku ingin tahu alasan mereka membawaku kesini. Aku penasaran, apa yang berani membuyarkan kenanganku. Kulihat mereka celingukan. Seperti ada yang hilang. Aku masih belum hendak untuk beranjak.
Sesaat kemudian semuanya gelap. Ada yang menyergapku dari belakang. Aku bisa merasakan makhluk ini jauh lebih besar dari dua bidadari itu. Sekilas kudengar tawa kecil mereka. Setengah tertahan. “Jebakan.!!” Aku benar-benar tak menyangka. Kucoba untuk berontak, tapi terlambat, satu tangannya berhasil mengunci pergerakan kedua lenganku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Kini aku dipaksa mengikutinya, aku berjalan mundur, kebalikan dari datangku tadi. Aku merasa dibawa masuk ke suatu bangunan, aku tahu ini karena sengatan panas matahari tidak kurasakan lagi di kulitku. Perlahan, kurasakan tanganku mulai bisa bergerak. Lengannya mengendur. Siluet-siluet cahaya berebutan masuk ke kelopak mataku. Kukerjap-kerjapkan mataku. Dia melepaskan tangannya dari wajahku. Sekilas, kulihat ada yang menarik perhatianku di telapak tangan itu. “Cincin pernikahanku!!” Aku yakin itu. Darimana dia mendapatkannya, heranku. Kuraba jari manis tangan kananku, masih ada. Kelegaan mulai menghampiri batinku. Ditambah telah bebas dari gelap, makin meningkat keberanianku. Masih kudengar tawa bidadari-bidadari kecil itu. Awas pikirku, kalian yang menjebakku. Tapi kutahan dulu niatku. Mudah saja mengurus mereka nanti. Aku mulai memikirkan apa yang harus kuperbuat dengan sosok yang menyergapku. Kurasakan dia masih berdiri diam di belakangku. Akhirnya nekat, kupaksakan diriku untuk berbalik.
“Wajah itu...!!, bukan...ini bukan bayangan ini. Ini lebih jelas. Ini nyata..!!,” Otakku berputar, jantungku berdegup kencang. Dia harusnya tidak berada di sini. Tidak mungkin.
Perlahan dia mendekatiku sambil angkat bicara, “Selamat Ulang Tahun, Cin...,” kecupannya mendarat di keningku. Kecupan yang hangat dan berat. Kecupan yang benar-benar membawa seluruh kesadaranku kembali. Lututku melemas, semua hal ini terlalu bertubi-tubi. Tapi aku tidak terjatuh, tangan yang tadinya menyergapku, kini tangan ini yang membantuku. Perlahan mendudukkanku. Tangan itu, tangannya..!! jadi... keterkejutanku hanya dibalas senyuman olehnya. Senyumannya yang membawaku kembali ke dunia nyata. Aku yakin aku sudah membungkus cinta diam ku. Rapi, sangat rapi. Kecupan itu, senyuman itu...bukan...itu bukan cinta diamku. Itu cinta sejatiku. Kubalas senyumannya. Belum sempat kubalas kecupnya, dua bidadari kecil tadi sudah memburuku dengan kecupan di masing-masing pipiku. “Selamat Ulang Tahun Mamah...” kupandang ke kiri dan kanan. Kualihkan pandanganku kembali ke depan. Kali ini aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas perbuatannya tadi. Aku juga yakin pasti dia otak dari semua kejadian ini. Dia selalu menggunakan kecerdasannya untuk mengejutkanku. Kujulurkan kedua lenganku memeluknya. Kubelai rambut hitamnya, yang selalu membuatku kagum dengan keindahannya Kukecup pipinya. Sebagai ucapan terima kasihku. Aku tahu itu belum cukup, tapi aku yakin dia cukup paham bahwa aku benar-benar bahagia.
Dia memang cinta sejatiku. Bukan cinta diamku. Ungu bukan warna favoritnya, tapi itu warna favorit kami. Aku tak perlu menghafal lagi kapan dia berangkat dan pulang, karena pasti aku yang kini mengantar dan menyongsongnya. Dia bukan orang yang aku tak punya keberanian untuk menelpon dulu, tapi dia orang yang tidak membiarkanku menelponnya. Ya, karena dia selalu mendahuluiku. Dia bukan pemain basket yang gesit, tapi dia cukup gesit untuk seringkali membuatku terkejut. Bahagia. Dia bukan cinta diamku. Cinta diamku masih terbungkus rapi. Hanya saja, pita doa itu sudah tidak berada di tempatnya lagi. Tuhan mengabulkan doaku. Menjadikanku selalu dekat dengannya, menjadikannya suamiku. Plus, mungkin sebagai bonus atas kesabaranku menunggu selama hampir sepuluh tahun, Tuhan juga memberiku dua bidadari kecil, putri-putriku. Cinta diamku, tetaplah cinta diam. Sekarang, aku sudah cukup dengan cinta sejatiku saja.
 



Cinta Hitam Putih

Alhamdulillah telah terbit buku antologiku ke - 2 **cerpennya nyusul ya, belum berhasil di download.

kalau mau pesen bukunya masih ada kok, ini cover
bukunya :)

Minggu, 31 Maret 2013

Aku, Ibu dan Lelakiku


Ibu...cintamu suci seputih salju
Kasih dan sayangmu begitu tulus
Hangat pelukanmu bagaikan fajar menyapa bumi
Tutur katamu semerdu nyanyian burung nuri
Nasihatmu laksana embun di kemarau panjang hatiku
Kesetiaanmu padaNya dan keluarga memenjarakan ciintaku
Bagaimana aku tidak jatuh cinta 9 kali, atau mungkin 99 kali
Dan kamu lelakiku
Rambut indah yang membungkus otak cerdasmu
Lengan kekar yang siap sedia skupinjam untuk bersandar
Humormu begitu renyah, romantismu meluluhkan jiwa
Iman dan hartamu memaksaku menjadi penghuni hatimu
Dan kini...
Aku milikmu, pelengkap tulang rusuk itu
Aku adalah istri dan ibu dari anak-anakmu
Aku adalah penjaga hati dan harta-hartamu
Kamu ragu, kenapa kamu cemburu kepada ibu
Tak bolehkah aku menyayangi ibuku seperti dulu
Ya...seperti dulu, sebelum kamu datang meminangku

Wahai cupidku arahkan anak panahmu hanya pada hati lelakiku
Jangan berbelok dan salah arah, bunuh semua iri dan cemburu
Biarkan aku, ibu dan lelakiku bebas dari kutukan cinta bebal ini
 
***
Alhamdulillah telah terbit antologiku ke-1
Terselip puisiku diatas dalam buku antologi puisi dengan judul "Kumpulan Puisi Berbagi Kasih"

 

Rabu, 13 Februari 2013

Lembar Paralel Kisah Dhanay

Alhamdulillah telah terbit buku antologiku....

Terselip cerpenku yang terinspirasi oleh film Habibie Ainun, karena kisah cintanya mirip dengan kisah cinta kami :')

Sinopsis :

Di saat sebagian suami meminta istrinya untuk bekerja demi menopang keuangan keluarga supaya tidak pincang, namun tidak dengan kamu. Ya, lagi-lagi kamu seperti Habibie saat tidak mengijinkan Ainun bekerja, bukankah kamu juga melakukannya kepadaku dengan menyakinkanku bahwa kamu mampu dan akan memberikan yang terbaik buat kami. Saat Habibie tertidur di meja kerjanya, seperti kamu juga yang tidak jarang tertidur di depan laptop. Dan masih banyak kesamaan karakter tokoh Habibie denganmu.

Kalau kamu sebaik Habibie, kenapa aku tidak bisa seperti Ainun? Ainun menerima dengan ikhlas saat diajak Habibie ke Jerman, sementara aku menolak saat kau pinang dan harus terbang ke Sampit memenuhi tugas dinasmu. Aku memilih LDR dan kuliah di Semarang. Ainun selalu hadir menyemangati Habibie saat beliau membutuhkan dukungan, sementara aku tidak pernah ada saat kau butuhkan. Ainun bisa menyembunyikan penyakit kronis yang semakin hari mengerogoti tubuhnya, karena dia tahu kalau negaranya lebih membutuhkan Habibie. Tetapi
bagaimana dengan aku, pusing sedikit saja sms kamu dan membuat kamu khawatir. Satu-satunya yang sama antara Ainun dan aku adalah saat Ainun cemburu, bukankah aku juga lebih sering cemburu padamu, Dhan?. Maafkan aku.

Dhan, engkaulah Habibieku, engkaulah presiden di hatiku yang tidak akan pernah lengser meski didemo oleh ribuan rasa marah dan dendamku. Tak akan pernah tergantikan posisimu oleh Habibie yang lain. Terima kasih ya, Dhan, untuk semua yang indah.
 

****

Yang belum nonton filmnya Habibie Ainun, silahkan download :)


1. http://4shared.com/rar/Vv_iRT-O/Habibie__Ainun__2012__DVDRip_p.html

2. http://4shared.com/rar/L1xeZN9k/Habibie__Ainun__2012__DVDRip_p.html

3. http://www.4shared.com/video/1JV-vuBt/Habibie__Ainun__2012__DVDRip_p.html

4. http://www.4shared.com/video/TSnj4_nm/Habibie__Ainun__2012__DVDRip_p.html

5. http://www.4shared.com/video/lQwvgcHV/Habibie__Ainun__2012__DVDRip_p.html

Selamat nonton dan mewek :D

Minggu, 23 Desember 2012

Terima kasihku kepada Bapak dan Ibu

Alhamdulillah telah terbit antologiku ke-5
Dengan spesifikasi buku sebagai berikut :

Judul : Permata Kasih
Penulis : Yuphe Himura dkk
Tebal : xii + 148 hlm
ISBN : 978-979-96590-3-3
Harga : Rp. 35.000,-

 Bersyukur aku dilahirkan dari rahim perempuan terhebat yang ku punya. Ia begitu anggun, cantik, dan bijak. Menurutku Ia adalah perempuan yang paling sempurna di antara perempuan-perempuan yang ada

 Aku rindu akan wajahmu yang syahdu,
senyum, tawa bahkan diammu pun kumerindu
tak bisa kupungkiri, aku rindu semua tentangmu . . .

Dalam hening mendekap hangat

Hangat akan kasih sayangmu
Walau raga tak bertemu tapi cinta kan menyatu
Dalam rindu yang selalu menggebu

Ketika wangi dunia mulai kucium
Di kala tangisan pertamaku menyapa realita
Dan disaat celoteh manjaku menyeru kepada para malaikat
Saat itulah lengan perkasa seorang wanita selalu melindungiku

Wajah tersenyum
Lelah tapi tak henti
Terima kasih



Suatu senja nan indah, Bapak duduk di sebuah kursi rotan beranda rumah sambil menghisap rokok elektriknya dan sesekali menikmati setiap sesapan kopi buatan Ibu. Sedangkan Ibu sendiri sedang asyik dengan kesibukan rutinitasnya membungkusi bawang goreng untuk di jual ke pasar esok hari. Senang sekali menyaksikan pemandangan itu, kedua orangtuaku begitu bahagia menikmati masa tuanya yang tentu saja tidak mudah untuk meraihnya.

Kedua orang tuaku terkenal orang yang ulet, mereka asli dari Solo dan merantau ke Semarang setelah menikah kira-kira tahun 1980, bermodal kemauan yang keras dan usaha yang ulet dari tidak punya apa-apa sampai sekarang sudah mempunyai kios, rumah dan 4 orang anak yang ketiga putrinya sudah mempunyai tanah. Si ragil laki-laki yang masih sekolahpun prestasinya begitu bagus sehingga mendapatkan beasiswa sekolah gratis di bangku SMA  karena keahliannya di bidang sepak bola. 

Semua itu karena begitu kerasnya kedua orang tuaku bekerja membanting tulang dan mendidik kami berusaha untuk memberikan yang terbaik. Satu pesan Bapak kepada ketiga anak perempuannya yang begitu mengiang di telingaku adalah “Dadi cah wedok ki ojo gur iso manak, sing cerdas serba iso koyok ibumu” begitu pesannya dalam bahasa jawa yang artinya “jadi anak perempuan itu jangan hanya bisa melahirkan saja, tapi juga harus cerdas seperti ibumu yang pintar dan serba bisa”. Saat itu aku yang sudah tidak bekerja lagi dan hanya mengurus anak saja merasa sedang dijewer telingaku sama Bapak, beda dengan kedua adik perempuanku yang bekerja dan satunya lagi mengembangkan usaha bawang goreng ibu. Dan berhasil merekrut tenaga kerja ibu-ibu rumah tangga terdekat. 

Ibuku bisa dibilang supermom karena ibuku memang ibu yang serba bisa. Bisa memperbaiki listrik yang sedang rusak, kipas angin, setrika bahkan naik ke atap untuk menganti genting yang pecahpun tidak segan beliau lakukan disaat tidak ada Bapak. Usianya yang sudah 50 tahun lebih masih berani naik motor dan kota-kota untuk menemani adikku tanding karena Bapakku sedang tidak bisa mengantarnya.

Ditengah jalanan kota yang begitu padat dan kadang macet berbaur dengan deru debu maupun air hujan yang menyiram tubuhnya. Sungguh semua itu tidak menciutkan tekadnya untuk menghantarkan cita-cita si ragil menjadi seorang pemain sepak bola profesional. Aku begitu iri dengan semua kelebihan yang ada, ibuku seperti tidak pernah capek. Aku ingin mengikuti jejaknya.
Dari pesan Bapak tersebut, aku mulai berpikir untuk mencari pekerjaan seperti dulu, tapi oleh suami aku tidak diijinkan bekerja mengingat anak-anak masih kecil dan tidak ingin di asuh oleh baby sister. Suamiku ingin anak-anak diasuh oleh tanganku sendiri dan akulah sebagai guru pertamanya. Dari situ aku berpikir lagi bagaimana caranya aku bisa bekerja tapi tetap bisa mengasuh anak-anak dan full time di rumah dengan prioritas sebagai ibu rumah tangga.

Satu ungkapan “dimana ada kemauan pasti ada jalan” ternyata benar. Ide untuk menjalankan sebuah toko online menggalir begitu saja. Setelah saya bicarakan kepada suami, ternyata dia juga setuju karena semua pekerjaan bisa dikerjakan dirumah sambil mengasuh anak. Barang dari supplier diantar kerumah sedangkan barang pesanan konsumen bisa saya kirim via paket mengunakan jasa pengiriman dengan ongkos kirim ditanggung pembeli. Dan sudah ada petugas yang mengambil bungkusan-bungkusan paket tersebut karena saya berlangganan. Saya biasa online untuk memasarkan produk yang saya jual setelah semua pekerjaan rumah beres.

Ternyata benar kata Bapak dan Ibu, akan ada kepuasan sendiri bila seorang istri bisa berkarya tidak hanya mengandalkan gaji suami. Dengan mengelola toko online aku tetap masih bisa menyelesaikan semua tugasku sebagai ibu rumah tangga. Bahkan sekarang aku bisa sambil menulis karena anak-anak sudah mulai besar. Aku menulis artikel atau cerpen untuk diikutkan audisi, kukirim ke media cetak ataupun sekedar konsumsi sendiri. Tidak jarang juga aku mengantongi uang hadiah atau honor dari tulisanku. Sebenarnya tujuan utamanya tidak sekedar materi namun lebih ke aktualisasi diri begitu pesan Bapak dan Ibu. Dan sekarang sebagai ucapan terima kasihku, setiap bulan aku menyisihkan sedikit dari laba penjualan untuk membantu uang jajan si ragil. Senang rasanya bisa memberi uang orang tua dan tidak minta dari suami. Terima kasih Bapak dan Ibu, semua wejanganmu menjadi cambuk hidupku hingga kuraih keberhasilan ini.